Kamis, 31 Oktober 2013

Kondisi Lalu Lintas Di Indonesia

Kondisi lalu lintas sehari-hari di kota-kota di Indonesia terlihat semrawut, jauh dari tertib. Lalu lintas di jalanan sepertinya tidak ”berpola”, tidak menunjukkan adanya keteraturan.

Para pemakai jalan—pejalan kaki, pesepeda, pengendara roda dua (motor) dan empat (mobil), serta angkutan umum—berjalan semaunya sendiri, tidak memperhatikan aturan berlalu lintas. Menyeberang di sembarang tempat, trotoar dipakai roda dua, berhenti tiba-tiba dan bukan pada tempatnya, berbelok dan berbalik arah sembarangan.

Tak pelak lagi, kemacetanlah yang terjadi! Ironisnya, kemacetan itu lebih banyak didorong perbuatan pemakai jalan yang menonjolkan kepentingan pribadi, bukan melulu karena alasan jalannya kecil atau sempit atau karena terlalu banyak kendaraan di jalan. Itulah keadaan lalu lintas yang polanya acak-acakan, yang menyebabkan rawan terjadi kecelakaan.

Elite yang tak beradab

Lebih ironis lagi, selain terjadi di depan pasar tradisional yang penjajanya menggelar dagangan hingga ke badan jalan atau di depan supermarket dan mal, kesemrawutan lalu lintas ini juga terjadi di depan gedung-gedung sekolah, termasuk di sekolah dan kampus favorit. Mungkin bisa dikatakan, di depan gedung-gedung sekolah yang megah dan mentereng tersebut identik dengan ketidaktertiban lalu lintas.

Padahal, institusi sekolah itu di samping tempat mengasah otak (intellectual exercise) untuk menambah dan memperluas wawasan agar para peserta didik dapat menganalisis berbagai gejala alam dan manusia, juga mengajarkan kedisiplinan. Tetapi ternyata di lingkungan sekolah itu justru kentara ketidakteraturan lalu lintas. Terkesan para sivitas akademika, siswa, karyawan, mahasiswa, pengajar, guru, dan dosen berperilaku seenaknya, bertindak egosentris dalam memakai jalan. Mereka yang dikategorikan kaum terpelajar, anak-anak bangsa terpilih yang akan memimpin bangsa, ternyata sama saja dengan golongan lain dalam menciptakan kesemrawutan lalu lintas.

Kenapa, kok, kaum terpelajar yang merupakan kelas elite tidak memperlihatkan sikap yang tertib dan teratur, berdisiplin? Bukankah kaum elite itu, dalam perspektif historis-sosiologis, menunjuk pada insan-insan yang selalu berupaya keras berpegang pada aturan, norma, keadaban, dan etika yang berlaku, yang mereka sendiri membuatnya?

Tidakkah golongan elite ini dalam bersikap selalu dipenuhi dengan tindak-tanduk kesopansantunan dan ketenangan? Bukahkah kaum elite ini disebut sebagai kelompok strategis yang selalu berkreasi dan mengembangkan peradaban lewat pemikiran-pemikiran metodis dan reflektif serta melakukan tindakan-tindakan yang berdisiplin?

Mengapa kaum terpelajar kita dalam perbuatannya, kok, jauh dari cerminan sebagai kelas elite yang membangun kebudayaan yang beradab?

Kedisiplinan di ruang publik, termasuk di jalan, merupakan salah satu penanda masyarakat beradab (civil society). Namun, pada masyarakat kita hal itu belum banyak terwujud karena kaum terpelajarnya pun—golongan yang seharusnya berada di baris terdepan dalam mengadakan masyarakat—menjadi bagian dari pembuat kesemrawutan. Karena itu, Robert W Hefner, pengkaji kebudayaan kontemporer Indonesia, menyebut, hidup keseharian warga negara-bangsa Indonesia relatif jauh dari keadaban.

Tak beda dengan awam

Pendidikan tidak melulu mengajarkan ilmu pengetahuan serta keahlian dan keterampilan (pendidikan kognitif dan motorik), tapi juga mengajari peserta didik mengembangkan perilaku yang didasari aturan-aturan kedisiplinan (pendidikan afektif).

WF Wertheim, yang meneliti tentang perubahan sosial di Indonesia mulai tahun 1950-an, menemukan bahwa telah terjadi perubahan posisi sosial, dengan munculnya elite-elite baru, kaum terpelajar, orang-orang berpendidikan, yang mendesak kaum bangsawan. Di antara mereka itu ada yang jadi pejabat tinggi, politisi, saudagar atau pengusaha, konsultan teknik dan jasa, yang menempati posisi-posisi strategis dalam pengambilan keputusan penting bagi publik.

Namun, kemunculan elite-elite baru itu tidak berbanding lurus dengan perubahan sikap. Perilaku elite baru itu relatif sama dengan golongan kebanyakan. Yang membedakannya hanya kaum elite itu mempunyai dan menguasai sarana ekonomi yang mampu memakai barang-barang konsumsi bermutu, lebih mewah, dan beragam. Tetapi pada tingkatan sikap, mereka tak berbeda jauh dengan kaum awam lain: kurang berkonsentrasi dalam menjalani profesi, jauh dari kedisiplinan, malah yang menonjol adalah sikap arogansi, mempertunjukkan gaya hidup glamour, dan tindak-tanduk snobis.

Dengan demikian, walau pendidikan sekolah telah memunculkan kaum elite baru, bahkan hingga kini pendidikan sekolah ini tetap merupakan sarana bagi warga negara yang ingin naik kelas sosial-ekonomi, perubahan yang dibawanya lebih pada tataran fisik-material-ekonomi, belum mengubah perilaku.

Pendidikan sekolah ini tampaknya belum dapat mengubah tataran psiko-kultural peserta didik, tetapi baru mampu sebatas mendorong peserta didik untuk dapat mengasah otak. Sementara kemampuan untuk mengubah menjadi manusia yang berdisiplin masih terbatas. Dengan kata lain, pendidikan sekolah ini baru bisa mengubah tataran kognitif, belum tataran afektifnya.

Tampaknya pendidikan sekolah di Indonesia hingga sekarang ini lebih menekankan pendidikan kognitif, yakni bagaimana agar peserta didik menjadi pintar secara intelektual.

Padahal, hasil penelitian psikologis dan sosiologis menunjukkan, penekanan yang relatif berlebih pada pendidikan afektif sampai tingkat sekolah menengah akan merangsang pada percepatan kemampuan kognitif peserta didik. Jadi, dalam perspektif ini, orang yang disiplin cenderung pintar. Sebab kedisiplinan mendahului kepintaran!

Jumat, 27 September 2013

kantor Polisi Kushinagar

Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun dilaporkan menjadi korban pelecehan seksual oleh polisi India. Sayangnya, niat remaja itu untuk melaporkan bahwa dirinya telah menjadi korban pemerkosaan, malah dianggap sebuah kebohongan.

Laman Dailymail, Kamis 26 September 2013 melansir, apabila laporannya mau diproses, remaja tersebut harus mau membuka bajunya di hadapan petugas polisi pria. Alasannya untuk membuktikan bahwa remaja itu memang benar menjadi korban perkosaan.

Kejadian itu berlangsung di kantor polisi Kushinagar, Distrik Uttar Pradesh, India. Seorang remaja datang ke sana ditemani kedua orang tuanya untuk melaporkan bahwa putrinya telah diperkosa oleh penduduk setempat.

Polisi kemudian meminta biaya 50 ribu Rupee atau Rp9,2 juta untuk memproses laporan mereka. Namun, kedua orang tua remaja tersebut tidak sanggup membayarnya, karena mereka bukan orang kaya.

Remaja itu lalu diperintahkan untuk membuka baju demi membuktikan laporan yang dia buat tidak mengada-ada.

Kasus ini menjadi perbincangan luas di media massa. Penyerangan seksual dan tindak pemerkosaan merupakan isu yang serius di India.

Menurut laporan, polisi yang melakukan pelecehan seksual itu tengah diinvestigasi. Pelaku pemerkosaan terhadap remaja itu telah ditahan pada pekan ini.

Menurut data Biro Tindak Kejahatan Nasional India, ada satu perempuan yang diperkosa setiap 20 menit di negara itu. Kasus pemerkosaan yang paling menyita perhatian publik terjadi pada Desember tahun 2012.

Saat itu seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran diperkosa beramai-ramai oleh enam orang pelaku di sebuah bus yang tengah berjalan. Selain diperkosa, korban juga dihajar hingga babak belur.

Mahasiswi itu akhirnya meninggal di sebuah RS di Singapura tak lama kemudian. Sementara keempat pelaku, Akshay Thakur, Pawan Gupta, Vinay Sharma dan Mukesh Singh, telah divonis mati dalam sidang pada awal September ini.

Dua pelaku lainnya mengalami nasib berbeda. Bulan Agustus kemarin, pelaku yang masih remaja, hanya mendapat vonis bui selama tiga tahun. Itu merupakan hukuman maksimal, karena dia dianggap masih di bawah umur.

Sedangkan satu pelaku lainnya, Ram Singh, mati gantung diri di dalam selnya. Namun keempat pelaku menolak vonis itu dan mengajukan banding.